Oleh: Luthfan | 10 Februari 2009

Sudah Empat Orang Tewas di Praktik Dukun Cilik

dukunKeputusan aparat keamanan membiarkan praktik pengobatan oleh bocah cilik Ponari kembali berakibat fatal kemarin (9/2). Praktik penyembuhan dengan batu oleh bocah 10 tahun asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, yang sebelumnya sudah ditutup karena menelan korban dua orang tewas kembali diizinkan buka mulai Minggu (8/2). Akibatnya sangat tragis. Baru sehari dibuka, dua orang langsung tewas di lokasi kemarin (9/2). Dengan tambahan dua korban itu, berarti sudah empat orang tewas sejak praktik dibuka 20 hari lalu.

Radar Mojokerto (Jawa Pos Group) melaporkan, praktik dukun tiban yang berlangsung sejak 17 Januari lalu dan didatangi puluhan ribu pengunjung itu sebetulnya ditutup sejak Kamis (5/2). Penyebabnya, praktik itu sudah merenggut nyawa Rumiadi, 58, warga Kediri, dan Nurul Niftadi, 42, warga Jombang.

Namun, pelajaran mahal itu tak membuat jera. Tempat praktik penyembuhan alternatif Ponari kembali dibuka, Minggu (8/2). Pembukaan ini sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Pihak keluarga, pamong desa, dan kepolisian setempat berdalih, keputusan membuka praktik itu tidak lepas dari banyaknya ”pasien” yang terus berdatangan. Selain itu, jalan dusun ke rumah Ponari pun telah dipaving. ”Karena banyak orang yang datang untuk mendapatkan pengobatan, akhirnya panitia mengambil kesepakatan membuka praktik Ponari pada Minggu,” kata Kepala Desa Balongsari Retno Nila Cahyani.

Hal senada dikatakan Sakwan, personel keamanan dari Koramil setempat. Ketidaksabaran pasien yang mengantre itu akhirnya memaksa pihak keamanan mengizinkan pembukaan lebih awal dari yang dijadwalkan. Tentu dengan pengamanan ketat dari Polsek Megaluh, TNI, dan Koramil setempat.

Namun, keputusan “panitia” bersama itu terbukti menjadi awal tragedi baru yang lebih memilukan. Mendengar kabar praktik dukun Ponari kembali dibuka, puluhan ribu warga dari Jombang dan daerah-daerah lain di Jawa Timur, bahkan luar Jawa, kembali berbondong-bondong ke Dusun Kedungsari.

Sejak Minggu (8/2) malam arus kendaraan tiada henti mengarah ke arah Desa Balongsari. Hingga kemarin pagi, antrean mobil yang terjebak macet sudah mencapai pintu masuk Dusun Kedungboto, Desa Balongsari, yang jaraknya masih sekitar tiga kilometer dari tempat praktik Ponari. Hal itu memaksa petugas Satlantas Polres Jombang menutup jalan dan mengalihkan arus kendaraan.

Diduga tak tahan dengan panjangnya antrean, Muchtasor, 56, warga Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Blitar, meninggal sebelum sempat “diobati” oleh Ponari. Diduga Muchtasor meninggal akibat penyakit yang dideritanya, ditambah kondisi fisik yang sedang kelelahan.

Belum tuntas pengusutan kematian Muchtasor, satu lagi pengunjung praktik dukun Ponari tewas sekitar pukul 17.00 kemarin. Korban kedua diketahui bernama Marwi, 55, warga Dusun Gronggot, Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Hanya, saat berita ini ditulis, belum diketahui secara pasti penyebab kematian Marwi.

Petugas Polsek Megaluh dan Polres Jombang juga masih memintai keterangan sejumlah saksi. Sejumlah warga mengatakan, korban bukanlah pengantre. Marwi adalah pedagang yang sejak beberapa hari lalu ikut berjualan di lokasi praktik Ponari.

Seperti tindakan pada saat jatuh dua korban tewas pekan lalu, pascainsiden kemarin Polres Jombang dan muspika kembali memutuskan menutup tempat praktik Ponari.

Jatuhnya empat korban tewas itu belum kunjung memunculkan niat aparat keamanan untuk mengakhiri praktik dukun cilik Ponari. Kapolres Jombang AKBP M. Khosim bahkan menjanjikan skenario pengamanan baru. Termasuk membuat jalur antrean baru. “Nanti dibangun dua atau tiga jalur. Salah satunya khusus untuk manula ataupun pengunjung yang kondisinya tidak memungkinkan untuk mengantre berdesakan,” ujarnya tanpa sama sekali menyinggung kemungkinan penghentian praktik dukun Ponari selamanya.

Depag: Harus Tutup

Keberadaan Ponari sebagai dukun “ampuh” mulai menjadi buah bibir di Jombang, bahkan di seantero Jawa Timur, sejak sekitar pertengahan Januari lalu. Ini setelah bocah kelas III SD itu mengaku menemukan batu sekepalan tangan. Menurut kabar yang tak jelas sumbernya, batu itu ditemukan Ponari saat disambar petir sewaktu bermain di bawah hujan lebat.

Batu itu kemudian dipakai untuk mengobati pasien. Caranya, batu dimasukkan ke dalam segelas air putih, kemudian airnya diminumkan kepada orang yang sakit. Meski belum kunjung ada bukti nyata bahwa pengobatan itu mujarab, ribuan orang yang datang telanjur percaya dan mencari kesembuhan ke tempat praktik Ponari.

Sejak itu, kehidupan Ponari berubah. Bocah lugu itu tidak bisa lagi leluasa pergi ke sekolah dan bermain-main layaknya anak seusianya. Dia harus sibuk melayani puluhan ribu warga yang mendatangi rumahnya.

Berjatuhannya korban tewas dalam kegiatan praktik dukun bocah di Jombang itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) Seto Mulyadi meminta polisi bertindak tegas. “Mohon segera dihentikan. Itu bukan salah Ponari, justru kasihan jika tidak dihentikan,” ujar psikolog yang akrab dipanggil Kak Seto itu saat dihubungi tadi malam (9/2). Komnas PA menilai Ponari sudah menjadi korban ketidaktahuan masyarakat. “Polisi harus berembuk dengan orang tuanya dan warga sekitar agar cara-cara itu dihentikan dulu,” kata Seto.

Secara terpisah, Kepala Pusat Informasi Masyarakat Departemen Agama (Depag) Masyhuri juga langsung bereaksi. “Kami terkejut, di era seperti ini masih ada masyarakat yang percaya dengan hal seperti itu,” katanya di Jakarta kemarin. Dari sudut pandang agama, kata Masyhuri, yang dilakukan masyarakat sudah bergeser dari norma. “Tidak ada satu dalih pun yang membenarkan teknik pengobatan dengan batu,” katanya.

Depag akan meminta informasi lengkap dari kantor departemen agama setempat. “Kami juga akan koordinasikan ini dengan departemen terkait, misalnya Depkes,” katanya. Pembinaan warga, kata dia, menjadi tanggung jawab bersama antara tokoh masyarakat setempat dan pemerintah daerah. “Minta tolong pada dinas kesehatan agar memastikan kasiat batu itu. Kalau benar ada kandungannya, itu apa, jangan dikaitkan dengan magis atau klenik,” katanya.

sumber: jpnn

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: