Oleh: Luthfan | 7 Februari 2009

Pemilu Semu dan Nasib Rakyat

Tahun 2009 bagi bangsa Indonesia ke depan menjadi ajang pertarungan partai dan elit politik. Eforia demokrasi berdengung hampir di seluruh lini kehidupan partai politik dan elit politik. Namun, di sisi lain masyarakat Indonesia dimana-mana, terutama rakyat bawah dan menengah, semakin sesak dengan himpitan ekonomi yang telah menggurita.


Pengalaman, kata pepatah, merupakan guru yang sangat berharga. Pengalaman yang sangat berharga yang seharusnya dijadikan pegangan bagi partai politik dan elit politik adalah semakin memburuknya kehidupan rakyat. Setiap kampanye partai politik dan elit politik selalu menjadikan isu-isu pendidikan gratis, sembako murah, kesempatan kerja, kesejahteraan sebagai janji-janji politiknya. Namun kenyataannya, semakin banyak janji yang diberikan semakin banyak pula yang dilupakan ketika sang partai dan elit politiknya menjadi pemenang.

Hasil survei yang dilakukan oleh berbargai lembaga survei justru menunjukkan menurunnya tingkat kepercayaan terhadap partai politik yang ada. Bahkan dalam ajang Pilkada di hampir seluruh daerah menunjukkan angka golput alias tidak memilih mendekati angka 50% terutama di daerah Jawa Timur. Masyarakat sudah mulai bosan dengan janji-janji politik. Mereka pun semakin sadar bahwa Pemilu yang telah dilakukan berkali-kali di negeri ini tidak mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Justru mereka semakin terpuruk dan menderita.

Masyarakat sudah mulai cerdas bahwa Pemilu hanya menjadi ajang permainan para elit politik untuk mencari kekayaan masing-masing. Para elit itu sampai rela mengeluarkan uang bermiliar-miliar rupiah hanya untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Rakyat melihat bahwa calon yang dipilihnya ternyata hanya mementingkan kepentingan partai politiknya. Karena itu, rakyat mulai mencari alternatif partai politik dan elit politik yang betul-betul sejati untuk memperjuangkan rakyat.

Alhamdulillah, Hizbut Tahrir Indonesia berada di tengah-tengah ketidakpercayaan terhadap partai politik termasuk elit politik yang ada saat ini. Hizbut Tahrir muncul sebagai suatu gerakan ideologis yang menjadi alternatif dan tumpuan harapan untuk memperbaiki keadaan umat. Gerakan ideologis ini tidak terperangkap dan tertipu dengan sistem demokrasi yang melahirkan partai politik dan elit politik yang semu, yang alih-alih memperjuangkan rakyat, mereka justru memperparah keadaan rakyat.

Pelajaran demi pelajaran telah dialami bangsa ini. Puluhan tahun kita telah merasakan eforia demokrasi beserta turunannya, termasuk Pemilu. Namun, semua itu hanya melahirkan kekacauan. Karena itu, sudah seharusnya negeri dan rakyat ini segera meninggalkan sistem demokrasi yang melahirkan partai politik dan elit politik yang semu, sembari mencari dan bergabung dengan partai politik dan elit politik yang sejati memperjuangkan rakyat, yang berjuang dengan ikhlas hanya demi meraih ridha Allah Swt., yang tidak terjebak dengan kepentingan sesaat, kepentingan para kapitalis. Kepentingan yang diperjuangkannya hanyalah kepentingan ideologis, yakni akidah islamiyah, dengan menegakkah Khilafah Islamiyah. Wallâhu a’lam bi shawâb. [Drs. Abrar, M.Si., Ak.; Pembantu Dekan I Fekon Universitas Islam Riau]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: