Oleh: Luthfan | 20 Januari 2009

Aktivis Dakwah Tak Rela Dipoligami

Diasuh oleh : Dra (Psi) Zulia Ilmawati

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustazah Zulia yang saya hormati. Saya mau bertanya,  mengapa masih ada akhwat aktivis dakwah yang masih tidak rela di poligami? Padahal mereka memperjuangkan syariah, namun mengapa mereka belum mau menerima dengan ikhlas syariah Allah tentang poligami? Bukankah poligami juga ternyata sangat bermanfaat bagi kehidupan seorang muslim untuk menjaga kesucian dirinya. Apa seharusnya yang menjadi pegangan muslimah agar mereka bisa menerima ini semua dengan ridha dan pasrah pada Allah. Mohon jawabannya ya. Jazakumullah

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

Ahmad

Bogor

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb

Ahmad yang baik,

Saya bisa memahami sikap para akhwat yang masih belum bisa sepenuhnya menerima poligami. Sebagian dari mereka biasanya karena masih merasa khawatir jika suami tidak mampu bersikap adil, ketidakmampuan untuk melakukan proses penyesuaian dengan isteri yang lain, atau ketidaksiapan untuk menerima segala perubahan setelah suaminya menikah lagi. Ditambah kemudian banyaknya fakta di tengah masyarakat yang  menujukkan praktek poligami yang salah.

Ahmad yang baik,

Dalam memandang setiap persoalan, termasuk poligami, sangat dipengaruhi oleh sebuah pemahaman. Apa sesunggunghnya yang dijadikan sebagai landasan dalam berfikir dan bersikap. Fakta di tengah masyarakat, atau hukum Islam yang membolehkan poligami. Kalau kemudian  bisa memandang dan melihat bahwa poligami sebagai suatu yang baik bahkan solusi problem kehidupan, maka diharapkan akan dapat menerimanya dengan baik pula. Dan jika melihatnya bahwa ini adalah bagian dari syariat Islam yang hukumnya boleh boleh saja, seharusnya perempuan (isteri) dapat menerimanya dengan ikhlas. Bahkan akan melihatnya sebagai bentuk ketaatan pada suami, ladang pahala sekaligus kepedulian yang sangat terhadap sesama perempuan. Tidak sedikit pasangan poligami yang harmonis, dan sakinah.

Ahmad yang baik,

Poligami yang sukses memang tidak semata-mata karena keikhlasan istri  tetapi juga harus dibarengi dengan niat dan sikap yang baik dari suami ketika memilih berpoligami. Suami harus ma’ruf saat menyampaikan keinginannya berpoligami kepada isteri, walaupun bukan merupakan syarat. Karena diam-diampun sejatinya tidak menjadi masalah. Tapi sebuah kebaikan jika diawali dengan langkah yang baik akan mendatangkan keberkahan. Selain suami,  isteri baru juga harus pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan yang selama ini sudah dijalani. Semua anggota keluarga harus bisa saling menjaga, menghargai, menerima kekurangan masing-masing, mengingatkan jika ada yang salah untuk menjadikan semuanya lebih baik. Dengan begitu Insya Allah keluarga sakinah akan bisa diraih.

Ahmad yang baik,

Kekhawtiran suami akan cenderung hanya kepada satu isteri memang kadang  menjadi kendala utama. Apalagi katanya perempuan memiliki sifat posessif, sulit untuk berbagi. Tentang kecenderungan sesungguhnya memang tidak dituntut untuk berbuat adil, karena suami memang tidak akan mampu melakukannya. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam al-Quran surat an-Nisa’ ayat 129. Dalam persoalan cinta kasih, Rasulullah saw lebih condong kepada ‘Aisyah daripada isteri-isteri lainnya. Meskipun demikian, sikap itu tidak boleh mengakibatkan hak-hak isteri yang lain terabaikan. Sehingga, dalam ayat 129 juga dinyatakan: Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.  Untuk perkara-perkara yang berada dalam batas kemampuan manusia, seperti pemberian nafkah, sikap dan perlakuan lahiriah, giliran, dan semacamnya, maka suami wajib berlaku adil.

Ahmad yang baik,

Memberikan contoh praktek poligami yang benar merupakan langkah yang tepat untuk  pembelajaran agar bisa menerima poligami dengan ikhlas. Selain itu melakukan  sharing dengan mereka yang telah sukses menjalani kehidupan berpoligami juga akan membantu. Menggambarkan tentang manisnya kehidupan mereka, hubungan antar anggota keluarga yang menyenangkan dan sebagainya. Satu hal yang juga penting disampaikan bahwa sesungguhnya dalam kehidupan keluarga itu pasti akan ditemui problem. Baik keluarga poligami ataupun monogami. Yang terpenting adalah bagaimana setiap anggota keluaraga mampu menemukan solusi yang tepat terhadap setiap pesoalan. Mudah-mudahan setiap pemahaman yang sudah tertanam akan mengiringi setiap langkah kita dalam berfikir dan berbuat. Sesungguhnya tidak ada syariat Allah yang akan mendatangkan keburukan bagi manusia.[]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: