Oleh: Luthfan | 6 Januari 2009

Pelayan Umat

Oleh MR. Kurnia

Pemimpin (imam) itu adalah penggembala, dan ia akan ditanya tentang gembalaannya itu,” begitu kata Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.  Pemimpin sejati adalah pemimpin yang benar-benar menjaga umatnya, mulai dari akidah hingga kesejahteraannya.  Fungsi pemimpin adalah menjadi benteng.  Nabi menyatakan, “Pemimpin (imam) adalah benteng, umat berperang di belakangnya dan dilindungi olehnya” (HR. Muslim).  Itulah sebabnya, para ulama salaf mendudukkan pemimpin sebagai penjaga Islam dan umatnya.  Sampai-sampai, Imam al-Ghazali menyatakan, ‘Agama ini adalah pondasi, sementara pemimpin adalah penjaga.  Sesuatu apapun yang tidak memiliki pondasi akan roboh, dan apapun tanpa penjaga niscaya hilang’.

Para Khalifah benar-benar menjadi benteng bagi akidah umat.  Dalam rangka menjaga akidah kaum Muslim, Khalifah Abu Bakar Shiddiq pernah mengutus Khalid bin Walid ke Yamamah untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai Nabi.  Misi itu pun berhasil hingga Musailamah terbunuh dalam pertempuran.  Begitu juga, saat ada kelompok yang murtad, Abu Bakar segera menyelamatkan akidah umat.  Beliau mengutus al-‘Ala bin al-Hadhrami untuk menuntaskan kemurtadan di Bahrain,  dan al-Muhajir bin Abi Umayah untuk menyelesaikan kasus kemurtadan di Najir.  Setelah berhasil menghentikan kemurtadan tersebut, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid menyerbu Ubulah hingga di-futuhat-lah beberapa kota kekaisaran Romawi yang saat itu sebagai pusat Kristen.  Berbagai upaya pemurtadan pun dapat dihentikan.  Itulah sikap pemimpin Islam binaan Rasulullah SAW.  Berbeda dengan itu, pemimpin kaum Muslim sekarang tidak membentengi akidah umat.  Pemurtadan dibiarkan dengan dalih kebebasan beragama.  Hak asasi manusia (HAM) dijadikan pegangan dan agama baru, sementara ajaran Islam dilupakan.

Sejarah Islam mencatat betapa besarnya perhatian para khalifah sebagai pemimpin umat terhadap urusan mereka.  Sebut saja Khalifah Umar bin Abdul Aziz.  Sejak dibaiat menjadi khalifah, beliau bertekad untuk mengabdikan segenap hidupnya untuk mengurus rakyatnya.  Atha’ bin Abi Robah menceritakan bahwa isteri Umar bin Abdul Aziz, Fathimah, pernah menemui suaminya saat berada di ruang sholat rumahnya.  Fathimah menemukan Umar tengah menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi janggutnya.  Ia pun segera bertanya kepada suaminya itu, “Wahai, Amirul Mukminin, adakah sesuatu yang telah terjadi?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Duhai Fathimah, sungguh di pundakku ada urusan umat Muhammad SAW baik yang berkulit hitam maupun putih.  Karenanya, aku berpikir tentang mereka kaum fakir yang lapar, orang sakit yang tak punya biaya, orang ‘telanjang’ yang terpinggirkan, orang yang dizhalimi lagi dicengkeram, orang yang terasingkan dan ditawan, para tua renta, keluarga yang banyak anak tapi sedikit hartanya, dan urusan lain mereka di setiap jengkal bumi dan negeri.  Padahal, aku tahu bahwa Tuhanku pasti meminta pertanggungjawabanku kelak pada hari kiamat.  Aku takut kelak tak memiliki hujjah (argumentasi) di hadapan-Nya.  Itulah sebabnya aku menangis.”

Ironis.  Sikap seperti ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan pada diri pemimpin dewasa ini.  Semuanya serba kapitalisme.  Orang miskin sulit dirawat di rumah sakit karena tidak punya dana, bahkan ada yang meninggal tanpa perawatan.  Alih-alih disediakan rumah, justru penggusuran dilakukan dimana-mana.  Jerit tangis penghuninya tak digubris.  Para pedagang kaki lima harus bekerja dalam kecemasan karena dikejar-kejar Satpol PP yang siap menggaruk mereka kapan saja.  Padahal, Rasulullah Muhammad SAW berdabda, ”Barangsiapa yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi sesuatu dari urusan umat Islam kemudian ia tidak memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinannya nanti pada hari Kiamat” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Di tengah krisis global ini, umat Islam memerlukan pemimpin sejati.  Pemimpin yang menjadi benteng Islam sekaligus pelayan umat, seperti Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.  Tanpa itu, alih-alih menjelma menjadi umat terbaik, kaum Muslim tetap akan menjadi buih.  Bangkitlah!.[]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: