Oleh: Luthfan | 6 Januari 2009

Kepatuhan Total

Oleh MR. Kurnia

Tak terlintas dalam pikiran mereka untuk menangguhkan penerapan hukum Allah tersebut.  Mereka benar-benar memegang prinsip, ‘sami’na wa atho’na, kami mendengar dan kami pun mematuhinya’.

Abu Buraidah menceritakan bahwa ayahnya pernah mengisahkan, “Kami tengah duduk-duduk sambil minum di padang pasir.  Saat itu kami bertiga atau berempat.  Di hadapan kami tersaji bejana berisi minuman keras (khamr).  Kami pun minum-minum menikmatinya.  Tiba-tiba turunlah ayat pengharaman khamr dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.  Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (TQS. Al-Maidah[5]:90-91).  Kala itu ada orang yang sudah meminumnya, namun seketika itu pula ia memuntahkan khamr yang ada di mulutnya.  Ada pula orang memegang khamr di tangannya, persis akan meminumnya hingga cangkir sudah menempel di bibirnya.  Dicampakkanlah cangkir-cangkir saat itu juga.  Dipecahkanlah bejana-bejana berisi khamr tanpa ditunda-tunda.  Seraya berkata: ‘Kami telah berhenti, duhai Tuhan kami, kami telah berhenti!’“ (Tafsir Ibnu Katsir, jilid II, hal. 115-118).  Para sahabat begitu cepat menunaikan hukum Allah SWT.  Mereka tidak menunda-nunda kepatuhan.

Dulu, pernah kaum wanita berkumpul bersama dengan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.  Beliau menuturkan keutamaan wanita Quraisy dan Anshar, serta keimanannya pada wahyu yang diturunkan.  Lalu, beliau menyampaikan bahwa telah turun surat an-Nur[24] ayat 31 tentang jilbab: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …”.  Pada saat yang sama, para suami segera menyampaikan ayat tersebut kepada para istrinya, anak-anak perempuannya, saudara-saudaranya perempuan, dll.  Bersegeralah mereka mengambil sarung, seraya merobeknya dan menutupkannya ke seluruh tubuhnya.  Ada juga yang menjadikan gordeng sebagai penutup badan dan kepalanya (Tafsir Ibnu Katsir, jilid III, hal. 346).

Ibunda ‘Aisyah pun berdo’a: “Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …’ segeralah kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya” (HR. Bukhari).

Para wanita itu tidak mempertimbangkan dulu apakah maslahat atau tidak.  Tidak pernah terbetik dalam benak mereka apakah dengan mengenakan kerudung (khimar) akan mengurangi kecantikannya.  Tak ada keberatan dalam hatinya.  Yang ada dalam dada mereka hanyalah semangat untuk segera patuh dan taat kepada Allah SWT Pencipta mereka.

Pemandangan seperti ini bukan sekedar kasus, melainkan merupakan karakter umat Islam.  Ambil lagi contoh perubahan arah kiblat.  Sejak Rasulullah dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, mereka shalat menghadap Baitul Muqaddas (Masjid al-Aqsha).  Pasca hijrah enam belas atau tujuh belas bulan lamanya, turunlah ayat yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW mengarahkan kiblatnya ke Baitul Haram, Ka’bah di Makkah.  Sejak itu Nabi pun shalat menghadap ka’bah.  Pada hari turunnya perintah tersebut ada seorang sahabat yang turut shalat Ashar bersama dengan Rasulullah.  Seusai shalat, ia keluar menuju kaum Anshar.  Dia pun bersaksi bahwa dirinya telah shalat bersama dengan Nabi SAW dengan menghadap ke  arah ka’bah.  Kaum Anshar yang saat itu sedang shalat ‘Ashar dalam keadaan ruku pun segera mengubah arah kiblat mereka dari Baitul Muqaddas ke ka’bah (HR. Bukhari).

Sungguh pemandangan yang indah.  Tidak terlontar dari mulut atau hati mereka ”Tanggung, nanti saja menghadap ka’bahnya saat shalat Maghrib”.  Tak terlintas dalam pikiran mereka untuk menangguhkan penerapan hukum Allah tersebut.  Mereka benar-benar memegang prinsip, sami’na wa atho’na, kami mendengar dan kami pun mematuhinya.

Bahkan, sikap yang sama mereka lakukan kala dituntut mengobankan nyawanya sekalipun.  Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW saat perang Uhud, ‘Bagaimana pandanganmu, wahai Rasulullah, jika aku terbunuh saat ini?  Di manakah tempatku setelah mati?’  Rasulullah pun segera menjawab: ‘Engkau akan berada di surga’.  Mendengar jawaban Nabi tersebut, orang itu langsung melemparkan buah-buah kurma yang ada di tangannya.  Ia merangsek ke medan perang hingga gugur sebagai syuhada.  Sungguh, kepatuhan kepada Allah SWT dan Rasululllah yang tiada tara.

Kini, Islam telah turun sempurna.  Berbagai hukum syariat telah diberikan oleh Allah Zat Maha Pemberi Petunjuk.  Misalnya, dalam menghadapi krisis finansial global, Islam telah menyediakan strategi jitu, yaitu: (1) jadikan emas dan perak sebagai mata uang atau standar mata uang, (2) hilangkan riba hingga perbankan ribawi tiada lagi, (3) lenyapkan judi (termasuk bursa saham) dalam perekonomian sehingga sektor non riil tidak ada dan ekonomi fokus pada sektor riil, (4) tegakkan sistem kepemilikan individu, negara dan umum sesuai syariah.  Itulah solusi yang seharusnya diterapkan umat Islam.

Begitu juga, ketika negeri-negeri kaum Muslim dijajah oleh AS dan sekutunya, kaum Muslim pun segera menyatukan langkah dan kekuatan untuk membangun negara besar yang dapat melenyapkan kezhaliman mereka.  Lalu, pemimpin kaum Muslim mengumandangkan jihad melawan kaum kafir imperialis.  Niscaya, bermunculanlah para ksatria yang rindu akan kesyahidan menyambut seruan Allah SWT: ”Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” (TQS. Al-Ahzab[33]:23).

Wahai kaum Muslim, adakah kepatuhan total terhadap syariat dalam diri kita sebagaimana para sahabat?  Ataukah, kesenangan dunia telah menjerat umat ini hingga lebih takut kepada manusia dan abai kepada Pencipta manusia?[]


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: