Oleh: Luthfan | 6 Januari 2009

Awas Kristenisasi Mengintai

Kalangan Kristen terus berusaha memurtadkan umat Islam. Tak segan-segan mereka menghalalkan segala cara. Akankah umat Islam diam?

ImageTolong panteng televisi! Menjelang 25 Desember ini televisi sangat marak dengan acara Natal dan Tahun Baru. SMS reg soal Natal pun telah dibuka jauh-jauh hari begitu Desember datang. Sementara pusat-pusat perbelanjaan pun ramai-ramai mema-sang pohon Natal. Lagu-lagunya pun khas gereja. Para penjaganya pun latah mengena-kan pakaian ala sinterklas padahal keba-nyakan mereka Muslim. Seolah stasiun televisi dan pusat-pusat perbelanjaan itu diperuntukkan bagi pemirsa dan konsumen non Muslim. Padahal sebagian besar yang menonton atau berbelanja adalah Muslim. Ada apa ini? Adakah misi kristenisasi? Sangat mungkin.

Kristenisasi bisa jadi adalah bahaya laten bagi kaum Muslim. Mereka tidak akan ridha terhadap umat Islam sampai umat Islam mengikuti mereka. Mengikuti di sini, menurut mantan biarawati Hj Irene Handono, tidak saja mengikuti agama tapi juga mengikuti budaya maupun pemikiran mereka. Umat Islam diajak merayakan Natal dan Tahun Baru, serta menerima ide-ide lainnya seperti kebe-basan/liberalisme, hak asasi manusia, plu-ralisme, dan sebagainya. Ide-ide itu disebar-kan dengan berbagai cara.

Kristenisasi bisa jadi adalah bahaya laten bagi kaum Muslim. Mereka tidak akan ridha terhadap umat Islam sampai umat Islam mengikuti mereka. Mengikuti di sini, menurut mantan biarawati Hj Irene Handono, tidak saja mengikuti agama tapi juga mengikuti budaya maupun pemikiran mereka. Umat Islam diajak merayakan Natal dan Tahun Baru, serta menerima ide-ide lainnya seperti kebe-basan/liberalisme, hak asasi manusia, plu-ralisme, dan sebagainya. Ide-ide itu disebar-kan dengan berbagai cara.

Lokal sampai Global

Kasus di Bekasi pada akhir November lalu bisa menjadi bukti getolnya kalangan Salibis ini menggiring umat Islam untuk murtad. Melalui Yayasan Mahanaim, mereka mengadakan acara bertajuk “Bekasi Berbagi Bahagia” (B3) yakni kegiatan sosial berupa hiburan dan bagi-bagi hadiah bagi masya-rakat. Dengan berbekal rekomendasi dari Walikota Bekasi Mochtar Muhammad, mere-ka mengadakan acara itu di seluruh wilayah. B3 ini rencananya berlangsung secara serentak, ada tingkat RT/RW, kelurahan, kecamatan, hingga kota. Namun kedok mereka ini akhirnya terbongkar.

Yayasan Mahanaim ini ternyata tidak hanya mengumpulkan masyarakat dan mem-beri hadiah. Lebih dari itu, mereka telah membaptis para peserta. Caranya, para peserta yang kebanyakan dari kalangan pra sejahtera dihibur dengan lagu-lagu dangdut. Di ujung acara mereka digiring ke sebuah kolam buatan dan diceburkan. Muka mereka kemudian diusap-usap. Setelah itu, mereka diberi makan dan minum. Semua ini, menurut Irene, adalah ritual pembaptisan dalam agama Kristen. Pembaptisan sendiri adalah gerbang masuk Kristen, yang dalam agama Islam ada istilah ikrar dua kalimat syahadat.

Kontan saja tindakan yayasan tersebut menuai protes kaum Muslim. Mereka ber-unjuk rasa agar kegiatan tersebut dihentikan dan yayasan dibubarkan. Mereka juga me-minta pertanggung jawaban Walikota Bekasi. Sempat beredar rumor bahwa bupati ber-utang budi pada kalangan Kristen dalam pemilihan walikota yang lalu sehingga berani mengeluarkan rekomendasi. Tekanan masya-rakat untuk sementara berhasil menghen-tikan aktivitas pemurtadan berkedok kegi-atan sosial ini.

Maraknya kegiatan Kristenisasi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari misi besar kalangan Kristen di Indonesia. Berbagai program dibuat ke arah itu. Misalnya ada program Transformasi Indonesia 2020 yang ingin menjadikan Kristen sebagai mayoritas di Indonesia. Berbagai cara dilakukan. Lem-baga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) yang dipimpin oleh Amin Jamaludin ini menjelaskan bahwa kristenisasi kian berani di era reformasi. Tidak saja upaya pemurtadan itu dilaksanakan secara terbuka tapi juga keji.  Mereka menggunakan Alquran dan hadits dengan diputarbalikkan untuk membenar-kan ajaran sesat mereka, dan untuk mengelabui umat Islam.

Temuan LPPI menyebutkan, gerakan kristenisasi bergerilya dengan kedok dakwah ukhuwwah dan shirathal mustaqim secara gencar dan tersembunyi. Gerakan itu dikoor-dinasi oleh Yayasan NEHEMIA yang dipelopori Dr Suadi Ben Abraham, Kholil Dinata dan Drs Poernama Winangun alias H Amos. Mereka telah mengeluarkan beberapa buku di antaranya: Upacara Jama`ah Haji, Ayat-ayat yang menyelamatkan, Isa ‘alaihis salam dalam pandangan Islam, Riwayat singkat pusaka peninggalan Nabi Muhammad SAW, Mem-bina kerukunan umat beragama, Rahasia jalan ke surga, dan Siapakah yang bernama Allah itu?

Isi buku-buku tersebut sesat. Kese-satannya bisa dilihat di dalamnya misalnya dikatakan bahwa upacara Ibadah Haji adalah penyembahan berhala tertutup, Islam adalah agama khusus untuk orang Arab, Alquran kitab suci orang Arab dan Nabi Muhammad adalah nabi untuk orang Arab yang meng-ajarkan penyembahan berhala dan tidak akan selamat di akhirat, semua umat masuk neraka kecuali umat Kristen, dan sebagainya.

Buku Upacara Jama’ah Haji sempat beredar menjelang keberangkatan haji akhir November lalu di Banten dan Aceh. Tidak tahu siapa yang menyebarkan buku-buku ter-sebut. Di Lebak Banten, menurut informasi, buku itu disebarkan kepada anak-anak di sekitar Kantor Urusan Agama (KUA) oleh orang yang mengendarai sepeda motor. Saat ini pihak Departemen Agama setempat sedang mencari asal muasal buku tersebut. Sementara di Aceh, buku-buku itu disebar melalui pos ke kantor-kantor KUA kecamatan. Tidak jelas siapa pengirimnya.

Di tingkat global kalangan Kristen ini tak kalah gigihnya mengembangkan misinya. Salah satunya adalah dengan membuat Alquran palsu yang disebut “The True Furqan”. Selain beredar melalui internet, Alquran palsu ini disebarkan ke Kuwait. Meski isinya ter-kesan dari bahasa Arab dan mengambil salah satu nama Alquran, namun isinya sangat bertentangan sekali dengan isi Alquran. Pencetaknya dua perusahaan yakni ‘Omega 2001’ dan ‘Wine Press’. Judul lain buku ini ‘The 21st Century Quran’! yang berisi lebih dari 366 halaman baik bahasa Arab dan Inggris. Berbagai surah dinamai dengan surah-surah Alquran seperti An Nur, Al Fatihah, dan lain-lain. Tujuan penerbitan Alquran palsu ini me-nurut penulisnya yang menggunakan nama samaran Al Mahdy adalah sebagai alat penyebaran agama Kristen. Alquran palsu ini sempat pula masuk ke Surabaya pada tahun 2002.

ImageMereka juga membangun pusat-pusat kegiatan kristenisasi. Saat ini misalnya, me-reka sedang membangun ‘Rumah Doa Segala Bangsa’ di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor.  Mereka menyebutnya sebagai Sentul City Convention Center (SCCC). Sekilas memang umum. Namun bila disimak tujuan pen-diriannya, SCCC ini jelas untuk kegiatan rohani Kristen. Lihat pesan Gembala Sidang GBI Jalan Gatot Subroto: “Transformasi Indo-nesia pasti terjadi. Untuk itu Tuhan mem-berikan perintah kepada kita untuk mem-bangun wadah yang berdampak bagi Transformasi Indonesia dengan membangun SCCC menjadi Rumah Doa Bagi Segala Bangsa. Ini adalah kesempatan emas untuk investasi bagi Kerajaan Sorga.” Transformasi Indonesia adalah kristenisasi Indonesia.

Sedangkan di Jakarta, mereka akan membangun Menara Doa Jakarta (MDJ). Bangunan pencakar langit ini dibangun oleh jaringan gereja Bethany. Nilainya sangat be-sar yakni Rp 2,5 trilyun. Menurut Pendeta Abraham Alex Tanusaputra yang juga bos pembangunan menara itu, bangunan pen-cakar ini merupakan titah Tuhan. Ia mengaku mendapat perintah langsung dari Tuhan. Tujuan pembangunannya, kata Alex: “Nama Tuhan ditinggikan, menarik banyak orang datang dan percaya kepada-Nya. Nama Tuhan dimuliakan. Kepercayaan dunia inter-national ke Indonesia dipulihkan dan segera terwujud Indonesia Baru.”

Di Cianjur, Jawa Barat, para misionaris membangun kawasan rohani bernama Lembah Karmel seluas 600 hektar. Konon kawasan ini menjadi tempat pertapaan salah satu ordo Katolik, juga tempat pembinaan para suster dan frater. Lembah Karmel adalah lembaga pendidikan Katolik terbesar di Indonesia. Lokasinya di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terletak pada ketinggian 800-950 meter di atas permukaan laut, dan mencakup empat desa di empat kecamatan. Dulunya tempat itu dirintis oleh Romo Yohanes Indrakusuma. Anehnya meski keberadaannya ditentang warga Cianjur, bupati Cianjur pun seolah membiarkan kawasan ini ber-kembang.

Tampaknya bagi kalangan Kristen, faktor keberatan masyarakat tak terlalu penting jika telah ada rekomendasi atau katebelece para pejabat. Ini yang terjadi di Pinang Ranti, Jakarta Timur. Mereka mem-bangun kampus Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (SETIA) di tengah-tengah kawasan Muslim. Jelas aktivitas mereka sangat mengganggu kehidupan masyarakat setem-pat. Bentrok pun tak terhindarkan. Sementara Walikota Jakarta Timur yang mendapat keluhan warga tak bergerak. Padahal warga punya bukti kampus itu menyalahi izin mendirikan bangunan (IMB).

Media Kristen

Sepak terjang kalangan Kristen dalam menyebarkan misinya di Indonesia juga tidak lepas dari dukungan media massa baik cetak maupun elektronik. Apalagi tak bisa dipung-kiri bahwa hampir sebagian media nasional dikuasai kalangan Nasrani. Kendati sebagian media itu menyebut dirinya sebagai media umum, keberpihakannya kepada kalangan Kristen tak bisa ditutup-tutupi. Ada koran Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, juga radio Sonora, Pelita Kasih, Heartline, dan televisi semisal SCTV, MetroTV, DaaiTV, Indosiar, dan lainnya.  Di luar jaringan ini ada media massa sekuler yang anti-Islam seperti Tempo grup dan Jawa Pos Grup.

Di balik media massa itu berkuasa orang-orang yang memiliki kedekatan dengan kalangan misionaris, bahkan di anta-ranya adalah misionaris itu sendiri. Mereka menjadikan media massa yang ada untuk menghantam kepentingan-kepentingan Islam. Ini kian lengkap dengan bercokolnya pihak-pihak Kristen di jajaran pengambil kebijakan di media tersebut. Sebagai contoh Media Indonesia, jajaran pimpinan redaksi mereka kuasai meski pemiliknya adalah Surya Paloh. Hal yang sama terjadi di Kompas, penentu kebijakan redaksi adalah kalangan Kristen.

Belakangan muncul televisi-televisi lokal seperti Cahaya TV Banten yang konon beberapa program acaranya terang-terangan membawa misi Kristen. Stasiun tersebut sempat akan membangun stasiun televise yang sama di Cirebon, Jawa Barat dengan nama hampir mirip yakni Cahaya TV Cirebon, namun keburu masyarakat menolaknya. Di balik televisi ini ada komunitas Gratia, satu sekte dalam Kristen.


Penjajahan

Memang tidak bisa dipisahkan antara penjajahan dan kristenisasi. Masuknya Kris-ten ke Indonesia juga lewat jalur tersebut. Para penjajah datang ke negeri-negeri jajahan membawa tiga misi (3G) yakni gold, glory, dan gospel. Mereka ingin memperoleh kekayaan alam (gold), mencapai kejayaan dengan menguasai daerah jajahan (glory), dan menyebarkan agama Kristen (gospel).

Tak mengherankan bila keterkaitan antara kaum Kristen dengan para penjajah sangat erat. Lihat saja kasus di Papua. Mengapa negara-negara Barat begitu gigih membantu Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Karena mereka Kristen dan ingin melepaskan diri dari Indonesia yang mayo-ritas Muslim. Barat juga tak bisa dipungkiri akan keterlibatannya dalam kemerdekaan Timor Timur karena kekristenannya. Amerika pun melindungi Alex Manuputty sampai sekarang karena kasus Republik Maluku Selatan (RMS) yang ingin melepaskan diri dari pangkuan pertiwi. Padahal Alex dalam kaca-mata hukum Indonesia terbukti bersalah melakukan makar. Di mana penghormatan mereka terhadap hukum?

Karakter penjajahan dan kristenisasi ini tidak berubah dari awalnya. Pak, peneliti Cina dalam bukunya yang berjudul China and The West menukil ucapan Napoleon sebagai berikut: “Delegasi misionaris agama bisa memberikan keuntungan buatku di Asia, Afrika, dan Amerika karena aku akan memak-sa mereka untuk memberikan informasi tentang semua negara yang telah mereka kunjungi. Kemuliaan pakaian mereka tidak saja melindungi mereka, bahkan juga mem-beri mereka kesempatan untuk menjadi mata-mataku di bidang politik dan per-dagangan tanpa sepengetahuan rakyat.”

Kardinal Ximenes pada tahun 1516, dalam rangka perluasan infiltrasi dan pengokohan gerakan Kristen, memberi perintah supaya setiap serangan ke India Timur dan Barat haruslah diiringi oleh misionaris Kristen. Islam dianggap sebagai ancaman yang bisa mengganggu eksistensi Barat yang Kristen. Maka berbagai cara dilakukan untuk melemahkan kekuatan Islam dan lebih jauh lagi menghancurkannya.

Dalam konteks kekinian, kristenisasi menyatu dengan imperalisme modern. Misi ini didukung oleh kelompok-kelompok komprador yang mencari keuntungan ekonomi dari proses tersebut, dan juga para penguasa boneka alias antek yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Di sinilah bahaya kristenisasi itu karena telah menyatu dengan tangan-tangan kekuasaan.

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain menghadapinya kecuali menghancurkan imperialisme itu sendiri. Dan itu tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri dan parsial tapi harus dengan institusi negara sebagai mana dulu umat Islam pernah memprak-tekkannya. Itulah khilafah.[] mujiyanto


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: